Sejarah Al-Kisah Sunan Bejagung

Diposting oleh Lihien anasha pada 19:47, 12-Mei-12

Nama asli Sunan Bejagung adalah Sayyid Abdullah Asy’ari yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di luar Wali Songo. Beliau dikenal juga bernama Syekh Asy’ari atau versi lain menyebut Syarif Asy¢ari Baidhowi, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Sunan Bejagung Lor. Sunan Bejagung konon menikahi putri dari Eyang Pangeran Penghulu, seorang ulama yang bermukim di Desa Bejagung Kidul, sedangkan Sunan Bejagung sendiri menyebarkan Islam dan kemudian dimakamkan di Desa Bejagung Lor. Tokoh yang satu ini menurut cerita tutur datang dari tanah seberang, seperti waliyullah lain. Ada pula yang menyebutkan bahwa ia berasal dari Pasai, namun ada pula yang mengatakan bahwa beliau asli Jawa yakni dari daerah yang tidak jauh dari tempat peristirahatan yang sekarang, yakni dari Paciran. Pastinya, bila kita mencari tahu tentang asal-usul Mbah Asy¢ari membutuhkan waktu lama. Yang jelas, beliau begitu diyakini sebagai seorang wali. Dalam cerita rakyat, Sunan Bejagung yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan Mbah Modin Asy¢ari awalnya adalah petani biasa yang suka menanam jagung. Namun, ia memiliki kesaktian lebih. Misalnya, beliau diyakini sebagai pendiri benteng Kumbokarno dalam semalam. Bahkan ia juga diyakini bisa pergi ke Makkah al- Mukkaromah pada malam hari dan kembali di Bejagung pada malam hari yang sama, serta tak lupa menyalakan lampu-lampu di Masjidil Haram. Menilik dari tingkat kekaromatan Mbah Asy¢ari, maka tidak sedikit yang nenepi dan bermalam untuk mencari semacam ilham. Khususnya bagi mereka yang sedang kalut, entah karena masalah ekonomi, keluarga, atau sedang menyelami atau mendalami ilmu kanuragan atau justru ilmu ketauhidan. Sampai-sampai tidak sedikit mereka yang berharap mendapatkan gaman atau senjata yang dulu menjadi pegangan atau andalan Mbah Sunan Asy¢ari. Semua itu menandakan bahwa ulama yang satu ini diyakini memiliki kesaktian tinggi juga punya senjata yang cukup bagus. Di lokasi makam beliau sering diadakan upacara ritual “Sumpah pocongk” yang salah satu syaratnya adalah dengan meminum air sumur dekat makam yang diyakini sangat bertuah. Di gapura masuk ke pesarean, ada dua pesan Mbah Sunan Bejagung yang sangat layak dicermati oleh para peziarah. Mobahing agama kasariring Nabi. Mobahing bumi kasektining pujonggo (berkembangnya agama karena Nabi, dan berkembang atau ramainya bumi karena kesaktian atau kepintaran penulis atau pengarang). Bila dikaji lebih dalam, Sunan Bejagung mengingatkan akan dua hal, yakni mengingatkan akan kehidupan dunia dan akhirat. Keduanya harus seimbang, sehingga dengan begitu manusia tidak lupa akan jati dirinya. SEJARAH SINGKAT PENINGGALAN SUNAN BEJAGUNG : Sejarah penyebaran ajaran Islam di tanah Jawa tak bisa dilepaskan dari sosok Sunan Bejagung Lor dan Bejagung Kidul yang makamnya berada di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding. Begitu berpengaruhnya, sejumlah mitos dikaitkan dengan kedua aulia ini. GUGUSAN batu besar nan hitam teronggok di barat lapangan Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, sekitar 2,5 kilometer (km) selatan barat Kota Tuban. Sudah ratusan tahun batu-batu tersebut bercokol di tanah desa seluas 2 hektare tersebut. Sebagian batu mirip gajah, terutama di bagian utara. Meski tidak dijaga dan dilindungi dengan bangunan pagar, tidak ada satu pun yang berani mengusik batu-batu itu. Jangankan membongkar, untuk sekadar memindahkan batu pun tidak ada yang bernyali. Gugusan batu yang bernama Watu Gajah ini termasuk salah satu mitos kebesaran Sunan Bejagung Lor dan Bejagung Kidul. Konon, batu- batu tersebut penjelmaan dari gajah tentara Majapahit yang hendak membawa pulang paksa Pangeran Kusumohadi yang mengaji kepada Maulana Abdullah Asyari (Sunan Bejagung). Pangeran Kusumohadi adalah putra Prabu Hayam Wuruk, salah satu raja Majapahit. Setelah mengetahui bahwa anaknya mengaji di Padepokan Sunan Bejagung Tuban, maka sang prabu memerintahkan patihnya Gajah Mada menjemput. Mendengar rencana itu, Pangeran Kusumohadimemohon kepada Sunan Bejagung untuk membantunya menolak kehendak Prabu Hayam Wuruk. Alasannya, pangeran ingin tetap menekuni ilmu Islam dan tidak ingin menjadi raja. Kehendak pangeran tersebut dikabulkan Sunan Bejagung. Untuk melindungi sang pangeran, Sunan Bejagung menggaret tanah sekitar Padepokan Kasunanan Bejagung yang sampai sekarang dikenal dengan Siti Garet. Tujuannya, agar tentara Majapahit tidak bisa masuk kasunanan. Tentara Majapahit akhirnya tak bisa masuk kasunanan dan berhenti di selatan kasunanan. Melihat itu, salah seorang santri melapor kepada Sunan Bejagung bahwa di sebelah selatan kasunanan banyak pasukan gajah dari Majapahit. Sunan Bejagung spontan mengatakan tidak gajah tetapi batu. Karena kekuatan karomah sang wali, semua gajah menjadi batu. Kepala UPTD Museum Kambang Putih Tuban, Supriyadi membenarkan bahwa Watu Gajah hanyalah bagian dari mitos sejarah Sunan Bejagung Lor dan Bejagung Kidul. Meski dikaitkan dengan siar wali di daerah setempat, tidak ada bukti sejarah yang menguatkan kalau batu-batu tersebut adalah bagian dari sejarah. Karena itu, batu-batu tersebut tidak masuk benda cagar budaya (BCB) yang dilindungi. Dikatakan dia, yang masuk dalam situs sejarah hanyalah seluruh benda di dalam kompleks makam Sunan Bejagung Lor dan Bejagung Kidul. Mitos lain yang terkait dengan karomah Sunan Bejagung adalah pantangan warga Bejagung memakan ikan meladang (jenis ikan laut). Sekdes Bejagung, Kusnadi mengatakan, hampir semua warganya tak pernah melanggar pantangan tersebut. ”Kalau dilanggar, maka yang memakan akan gatal-gatal,” kata dia. Mitos ini terkait dengan pengalaman Sunang Bejagung yang terapung di laut dan ditolong ikan tersebut. Ponpes Sunan Bejagung mengupas pantangan memakan ikan ini dalam situsnya sunan-bejagung.net. Rujukannya, buku Babad Tanah Jawa, Babab Tuban, dan juga buku dokumen Bejagung. Dalam situs ini disebutkan, suatu ketika Sunan Bejagung diajak berhaji oleh santrinya yang berwujud jin. Santri tersebut sanggup menggendong Sunan Bejagung dari Tuban sampai ke Masjidil Haram Makkah. Namun, saat digendong melintas samudra, Sunan Bejagung lepas dan jatuh ke laut. Dalam musibah tersebut dikisahkan Sunan Bejagung selamat karena dan ditolong ikan meladang. Ikan inilah yang membawa sunan sampai di suatu pantai di Hadramaut (yang sekarang dikenal dengan Saudi Arabia). Setelah sampai di Arab, Sunan Bejagung berpesan kepada semua anak cucunya jangan sampai makan ikan meladang. Dalam portal Ponpes Bejagung ini juga dibeber sejarah kedatangan Sunan Bejagung yang dikaitkan dengan hancurnya Kerajaan Pasai di Kutai. Setelah Pasai hancur, terjadi eksodus besar- besaran muballig Arab yang dipimpin Syekh Jumadil Kubro. Pengikutnya, Syekh Ibrohim Asmoro Qondi, Maulana Ishak, Maulana Malik Ibrahim, Maulana Abdullah Asyari Sunan Bejagung, dan ulama lainnya. Sesampai di tanah Jawa yang menjadi tujuannnya, Syekh Jumadil Kubro membagi tugas dakwah. Dia menuju kerajaan Majapahit. Maulana Ishaq ke Kadipaten Banyuwangi, Maulana Malik Ibrahim ke Gresik. Sementara Syekh Maulana Ibrohim Asmoro Qondi dan Syekh Maulana Abdullah Asy’ari ditugaskan di Kadipaten Tuban. Mubalig lainnya ditugaskan di tempat yang berbeda dengan tujuan yang sama, syiar ajaran Islam. Kedatangan Maulana Abdullah Asy’ari di Tuban disambut baik Adipati Tuban Wilotikto. Sang Adipati sangat menghormati ulama pendatang tersebut, meski pada saat itu dia belum bisa menerima islam sebagai agama yang baru. Bentuk rasa hormatnya kemudian diwujudkan dengan memberikan tanah pardikan (kemerdekaan) di sebuah daerah pegunungan yang saat ini bernama Desa Bejagung di Kecamatan Semanding. Di daerah inilah Syekh Maulana Abdullah Asy’ari mendirikan sebuah kasunanan dengan nama Kasunanan Bejagung sekitar 1360 M yang pada akhirnya menjadikan beliau dikenal dengan sebutan Sunan Bejagung. Awalnya, tidak ada istilah Sunan Bejagung Lor dan Sunan Bejagung Kidul karena Sunan Bejagung memang hanya satu yaitu Maulana Abdullah Asya’ari Sunan Bejagung. Kisah ini berawal dari datangnya seorang santri yang dikirim oleh Syeh Jumadil Kubro. Namanya, Pangeran Kusumohadi yang tidak lainputra Prabu Brawijaya IV atau Prabu Hayam Wuruk dari salah seorang selirnya. Kusumohadi pergi meninggalkan kerajaan karena tidak menginginkan tahta kerajaan yang saat itu menjadi rebutan antara Pangeran Wirabumi dan Putri Kusuma Wardani. Setelah diterima sebagai santri Sunan Bejagung, Kusumohadi berganti nama menjadi Hasyim Alamuddin. Karena alim, sholeh, dan ketauhidannya sangat tinggi, akhirnya Kusumohadi diambil menantu Sunan Bejagung. Dia dinikahkan dengan putrinya bernama Nyai Faiqoh. Melihat kemampuan menantunya dalam mengajarkan agama, Hasyim Alamuddin dipasrahi siar di wilayah Bejagung Kidul. Sementara Syekh Maulana Abdullah Asy’ari berpindah atau uzlah ke Bejagung bagian utara (Bejagung Lor)

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Tulislah komentar pertama!

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar